pCapek.
Pulang sekolah, ngantuk. Ugh, pingin cepet nyampe rumah.
Sial, naik angkot dago macet.
Sampai di angkot pink di simpang.
Alhamdulillah, udah agak penuh,
tapi, oops, tenyata udah penuh banget, kebagian tempat di jok panjang yang ditempelin duluan sama pata-pantan milik 6 ibu-ibu lainnya yang super gede. ugh, ga bisa duduk tenang. Gak apa apa deh duduk bertumpu di kaki--dengan kata lain jongkok.
Di jalan.
Lho kok bukannya pada turun, tapi malah ada bapak-bapak yang naik. Bukan naik angkot sih, lebih tepatnya, gelantungan kayak hanoman gitu di pintu angkot yang molongo. Kulihat ibu-ibu yang kebagian duduk di bangku kiri palling ujung rada risih. Mungkin hanoman itu nggak pake deodorant jadi semerbak wangi mereka tercium oleh sang ibu-ibu.
Di Bahagia.
tempat ini desebut bahagia soalnya ada toko kelontong yang namanya bahagia. Jadilah orang-orang menyebutnya bahagia.
Terkadang bahagia ini membawa bahagia, yaitu kalau di tempat ini banyak penumpang yang turun. Jadi, setidaknya kami penumpang yang naik angkot ini dari ujung sampai ujung bisa bernapas lebih lega.
Tapi kebahagiaan itu hanya muncul sepersekian detik. memang sih banyk yang turun, tapi banyak juga yang naik, jadilah aku masih tetap bertahan dengan posisi yang tidak dilakukan di tempat yang seharusnya. kulirikk ibu-ibu yang tadi, memang sih dia dapat temoat duduk yang agak ke dalam, nggak diujung lagi. Tapi, oo ternyata si hanoman tadi juga kebagian tempat duduk disebelah ibu-ibu itu. Dan ternyata nasib kurang beruntung bagi si ibu-ibu itu belum berakhir karena di depannya juga ada seorang gadis yang sama sekali nggak tahu malu memposisikan dirinya dengan posisi yang tidak seharusnya dialkukan remaja yang terhormat. Aku nyengir. Si ibu-ibu mendengus. Di sekelilingnya ada orang-orang yang sama sekali tidak membuatnya nyaman.
Di jalan deg-degan yang asyik.
Kalau yang ini bukan orang-orang yang memberi nama, tapi aku sendiri. jalan setelah di bahagia ini, naik turun gitu, jadi bikin deg-degan. Akan tetapi, yang bikin asik itu bagian yang jalannya turun dulu terus sedikit menanjak tapi sebentar kemudian turun lagi. Jadi kalu si supir memacu angkotnya dengan kecepatan tinggi, pada saat turunan pertama, deg-degan terus naik sebentar terus turun lagi... "asa apeng-apengan".
Saya informasikan kepada anda semua yang maniak dengan roler koster, atau koster yang muter-muter itu, silahkan berkunjung ke daerah rumah rami, niscaya anda tidak akan menyesal.
Di jalan Hup-ya
Apa itu hup-ya? Hup-ya adalah salah satu spesies dari famili polisi tidur dan genus gejligan. Nama hup-ya diambil ketika aku dan nadia naik motor dan ketika naik di polisi tidur, kami mangatakan "hup" dan ketika turun "ya". Kalau polisi tidurnya kecil kami dengan cepat mengatakan "hupyahupyahupyahup... ya". Itulah asal-muasalnya.
Di jalan hup-ya itu aku tidak begitu senang, karena dengan posisi seperti ini aku tidak dapat memprediksi kapan si angkot mengalami hup-ya, akhirnya kagetlah yang kurasakan.
Di bojong.
Hupfh, akhirnya bisa duduk juga. orang-orang yang mau pulang, berebut kursi. kulirik orang yang menggantikan posisiku tadi. Kasihan...
Di jalan berjerawat.
Setelah di bojong, ada jalang yang lubangnya banyaaaak sekali. Sudah tahu, jalan berlubang, supirnya malah menambah kecepatan. Perutku mual tidak terkira.
Di Tanjakan maut.
Hujan tiba-tiba mengucur deras. jalan licin, mesin mobil jadi dingin. Tanjakan yang biasanya maut, semakin terasa mematikan saja.
Getar-getar yang tadi kurasakan, berhenti. ya Allah, mesin mati. Penumpang yang lain pada ribut, keluar, padahal hujan deras. Mobil hanya ditahan menggunkan batu dan rem tangan yang entah masih baik atau tidak. As you know, mesin angkot memang tidak pernah bisa diandalakan. Supir berusahan menenangkan para penumpang yang sudah rusuh dari tadi. Entah apa yang merasukiku. Aku hanya menggeser diriku ke bangku paling ujung, menempelkan muka di kaca. seolah-olah aku adalah ikan dalam akuarium yang ditaruh di mobil ketika rem mendadak. Bodoh.
Alhamdulillah... Bisa nanjak juga ni mobil butut.
Masya Allah! Ternyata kengerian itu belum juga berakhir. tanjakan maut di depan POS sudah berhasil dialui, tapi aku lupa masih ada tanjakan lain yang lebih panjang dan lebih berbahaya. aku tutup mataku, tak berani melihat yang terjadi. Ketika aku buka mata, kami sudah berada di ligar agung, syukurlah...
Tarik napas... Huuuphhh . Satu tanjakan lagi maka semuanya akan segera berakhir. lubang disini semakin memperburuk keadaan. padahal penumpang sudah sedikit, tapi masih saja membuatku takut kejadian tadi akan terulang. Ternyata Allah masih memberikan kemudahan, si merah jambu masih bisa menanjak dengan mulus.--mulus? bohong, jalannya berigajul begitu kok--
Sampai di terminal.
Hujan masih menggguyur kampung kami. Aku menunggu hujan reda di mesjid Yayasa. Aku sendiri tidak tahu nama mesjid itu sebenarnya apa. Tapi dia terkenal dengan sebutan yayasan. Jangan menggugat apa yang sudah menjadi tradisi selama itu belum terlalu salah.
Hujan sedikit lebih ramah sekarang. Aku berjalan menuju rumah.
Tanjakan yang harus kulewati tak seberapa. jalan di depan pakalan ojek pun masih membuarkan aku hidup dengan tenang. tapi, untung tak selamanya lucky, di turunan gapura dengan sepatu sekolahku yang ternyata agak licin. Aku 'tisoledat' dengan sukses. bahkan malu pun mendatangi diriku, karena di tempat itu ada tukang baso dan kumpulan pembeli yang langsung memelototi aku. Begitu juga dengan penunggu wwrung bu Yayah. Huh. sebel.
Akhirnya sampai dirumah juga.
Besoknya, aku tidak ingin mengalami hal yang sama. Aku ingin membuat sebuah perubahan! Fight!
Aku pulang menggunakan angkot sadang serang. Itulah kawan, pilihanku untuk pulang hanya dua, kalau tidak lewat simpang, ya lewat bojong.
Turun dari angkot sadang serang aku masih baik-baik saja. Ketika jalan menuju bojong, bajuku kecipratan genangan air hadiah dari mobil yang melintas. Tak apalah, aku memaklumi pemerintah yang miskin sehingga tidak mampu menambal jalan.
Menanti angkot pink.
Wah, sudah banyak yang menunggu di sini. Yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Aku teringat pesanan mama membeli telur. Aku pergi sebentar ke alfa mart di dekat situ. Selesai mambeli telur aku kembali ke halte angkot. Waduh, sudah penuh. terpaksa aku menunggu angkot berikutnya.
Lama menit kemudian...
Aku sudah lumutan menunggu.
Ada siluet warna pink di sana! ugh ternyata uma payung orang yang warnanya pink. kecewa.
Yang ditunggu datang juga. Begitu aku mengijakkan satu kakiku di pintu, ada aa aa yang menyerobot, terdengar bunyi prak kecil dari dalam kantong. Bukannya buru-buru naik, aku malah memeriksa telurku dulu. pacah satu. aku memaki-maki dalam hati. Ketika bersiap akan naik, si yang ditunggu-tunggu pergi mencampakkan aku. sudah penuh lagi.
Aku menanti mobil yang tidak akan mengkhianati aku lagi...
Datang juga.
Aku tidak mau kecolongan lagi! begitu mobil berhenti, aku langsung mendekati pintu mobil. tak sengaja, kantong telurku teradu dengan badan mobil.prak lagi. setidaknya aku kebagian tempat duduk. Kuperiksa lagi kantongku. pecah satu lagi. tak apa deh, paling dimarahi sebentar.
Lho kok, belum juga jalan?
ternyata belum penuh, yang tadi naik itu cuma aku dan seorang anak sma lainnya. tahu begitu tadi aku tak perlu rusuh duluan. salah nih...
Setidaknya aku tidak mengalami hal separah kemarin.
Sampai di rumah. Aku kena marah berkali-kali, akibat faktor-faktor sebagai berikut:
1. baju kotor terkena genangan air
2. sepatu dan kaos kaki lebih parah lagi kena lumpur ketika jalan dari terminal
3. telur pacah dua butir
4. ternyata beli telur di alfa mart lebih mahal daripada beli di borma, aku dimarahi lagi deh
5. pulang telat
Capekya nggak abis-abis.
Puas puas puas