Ranger Dapur Umum

selama ini aku pikir, meskipun di dapur, daripada harus jadi yang masak, lebih baik aku jadi tikus pencuri makanan ajah...
Tapi, bumi terus berputar, dan banjir pun tak henti, bahkan macet terus belanjut, SEKARANG AKU BELAJAR MASAK!

Lihatlah persiapan aksiku!

dan inilah hasilnya:




Kalau kau mau tahu ini lah resepnya:

*bawang merah putih @4 butir, udah dikupas, dicuci, dicincang

*daunnya bawang, dipotongin

*cabe merah satu aja, dipotongin juga

*garam and gula ngga usah banyak-banyak lah

*ayam kecap disuwir suwir(aku tau, kalo yang ini optional, soalnya ayam yang tadi dipake juga kayaknya daur ulang dari ayam keacap yang kemarin)

*sayur pecay, batangnya dipisahin, dipotongin, tapi daunnya juga dipotongin

*tahu gorang setengah mateng

Caranya:

1. panasin minyak, tumis bawang merah, terus yang putihnya, tambahin cabe deh...

2. masukin ayamnya, kalo udah harum, masukin sayurannya, tapi batangnya dulu.. sebelumnya ditambahin air sedikit.

3. kalo batangnya udah layu, masukin daun nya sama daunnya bawang.

4. udah gitu, tambahin gulanya dikit aja, garmnya agak banyak, sama m*s*ko atau ro*co, aku ngga bisa ngasi tau persisnya soalnya kata mama pake perasaan aja nambahinnya, ntar juga enak...

5. tungguin bentar... jadi deh...




Petualangan Harianku Part IV: Malam Sunyi, Aku Bernyanyi

Aku bukanlah remaja yang sibuk. Kegitanku dalam seminggu hanya sekolah ditambah hari selasa dan kamis. Di ekskul pun aku tidak aktif. Aku sendiri heran, kenapa ini aku sering pulang malam.

Aku sendiri bingung mengatur jam pulangku, apalagi kalau sudah lewat dari jam setengah 5 sore.

Kalau aku pulang jam 16.30 dari sekolah, aku akan sampai di simpang sekitar jam 5 lewat. Itu kalau bukan weekend. Kalau hari jum’at, sabtu atau minggu, aku bisa saja baru sampai di simpang jam setengah 6. Kau tahu kan siapa yang suka cari gara-gara? Manusia-manusia yang bermobil plat B itu lho, yang suka banget menuh-menuhin kota bandung. Mungkim mereka mau balas dendam. Di kota mereka sendiri macetnya ampun-ampunan, jadi mereka pingin supaya nasib bandung juga sama dengan nasib kota mereka. Itu cuma hipotesisku lho, belum ada penelitian yang lebih lanjut mengenai hal itu.
Terus, aku bakal nunggu sampai kering di angkot pink. Kalau lagi hoki, begitu aku naik, si angkot langsung jalan. Tapi buatku, menunggu 10 menit di sana pun masih termasuk hoki sih.

Tapi, kalau lagi kurang beruntung dan harus mencoba lagi, bisa saja aku harus menunggu selama setengah jam atau lebih disana.

Barulah, disitu aku mulai cemas. Apakah si pinki bisa mengantarkan aku sampai di terminal atau tidak. Pasalnya, lewat dari jam 7, si pinki sudah tidak diperbolehkan lagi lewat bojong. Hal itu bukan karena polisi melarang, atau ada undang-undang yang mengatur demikian. Tapi, entah ada kesepakatan atau apa, yang jelas angkot pink dilarang melintas di bojong lewat dari jam 7. Kalaupun terjadi, penumpang diharuskan turun di bojong, meskipun tujuannya bukan disitu.

Pernah suatu kali, aku pulang terlambat. Jam 7.10, angkot pink yang aku tebengin sampai di bojong. Aku sudah khawatir harus turun disana, karena itu berarti aku harus naik ojeg, dan tanap harus dijelaskan lagi, aku harus mengeluarkan budget lebih.

Aku melihat itikad baik dari sang supir yang ingin mengatarkan penumpangnya sampai di tujuannya, karena selain aku masih ada lima penumpang lain yang rumahnya masih di atas. Sang supir memakasa lewat. Dan apa yang terjadi?

Kumpulan mang-mang ojeg yang mangkal di bojong itu melempari badan mobil dengan tomat dan botol. Disana gelap, aku tidak dapat memastikan botol apa yang mereka gunkan untuk melmpari angkot malang ini. Keyakinaku, itu botol minuman keras, soalnya, banyak yang bilang ojeg disini mah gila-gila, suka mabok.

Akhirnya kami semua turun, deh. Aku menelepon ke rumah minta dijemput. Daripada harus berurusan sama tukang ojeg sinting dan harus bayar lebih mahal—dari bojong ke terminal kalau naik angkot Rp 1500, tapi kalaunaik ojeg Rp 5000--, lebih baik minta jemput saja.

Oh iya, di bojongkalau mlam hari ada tukang martabak yang enak. Keluargaku langganannya—itu karena nggak ada lagi jajanan yang deket rumah kalau sudah malam. Selain itu ada tukang sate. Tapi kalau siang-siang ada tukang es kelapa muda. Kalau pagi ada tukang mie ayam tenda biru, enak banget lho.

Semua itu tiidak akan terjadi asalkan si angkot bisa lewat bojong jam 7 kurang 5 menit. Meskipun pada akhirnya, kami baru sampai di terminal jam 7.20, kami selamat dari ancaman tukang ojeg.

Jalan kaki dari terminal itu serem banget lho. Dulu aku tidak pernah berani berjalan senidri lewat sini. Soalnya, jalannya itu sepi banget. Maklum di kampong. Dulu malah ada ‘kejadian’ disini, samapai masuk koran segala. Ceritanya begini, “Pada zaman ahulu kala, hiduplah seorang gadis yang malam-malam lewat sini, terus ada laki-laki yang punya dendam sama dia. Suatu malam, laki-laki itu membacok si gadis, sampai hamper mati. Untungnya masih bisa diselamatkan. Sekarang, si gadis jadi rada gila. Tamat.” Dan ada ceritanya satu lagi, tapi bukan di sini persis, masih di sekitar sini, tepatnya di kebun, tidak tahu kebun punya siapa. Ceritanya begini, “ada bapak-bapak yang punya kambing. Dia lagi ‘ngarit’—ngambil rumput buat pakan ternak. Terakhir, ilalang disitu dia bakar. Terus ada bau bangkai, ternyata ada mayat perempuan. Tapi sudah tidak jeals lagi wajahnya karena sudah ikut terbakar. Tamat..”

Tapi, selama ini tidak ada kejadian apa-apa, jadi aku pulang lewat situ pun tidak ada rasa apa-apa. Masih ada rasa was-was sih, aku masih takut kalau-kalau ada yang mengikuti aku. Aku sudah menemukan solusinya, JALAN MUNDUR! Hebat kan ideku? Sudahlah tak perlul dibahas, aku tahu kamu pun setuju.

Selain imej menyeramkan, ada hal yang kusukai jika malam-malam lewat jalan sepi itu. Kunang-kunang. Kunang-kunang dengan cahaya mungilnya itu seolah-olah ingin menerangi jalanku di malam gelap itu. Selain itu ada paduan suara dari jangkrik dan kodok jadi tanpa sadar, aku pun ikut bernyanyi. Indah sekali bukan? Sayangnya, kalau tiba-tiba ada motor yang melintas disitu, si pengendara pasti akan mengira aku adalah putri hutan yang pingin jadi artis.

*Ada hal yang harus diwaspadai, ular pada malam hari tampak seperti tongkat biasa. Pernah aku dan Nadia menemukan ular seperti itu. Dan bodohnya, kami malah memainkan ular itu.

Petualangan Harianku Part III: Penantian Entah Kapan Berakhir

pCapek.
Pulang sekolah, ngantuk. Ugh, pingin cepet nyampe rumah.
Sial, naik angkot dago macet.

Sampai di angkot pink di simpang.
Alhamdulillah, udah agak penuh,
tapi, oops, tenyata udah penuh banget, kebagian tempat di jok panjang yang ditempelin duluan sama pata-pantan milik 6 ibu-ibu lainnya yang super gede. ugh, ga bisa duduk tenang. Gak apa apa deh duduk bertumpu di kaki--dengan kata lain jongkok.

Di jalan.
Lho kok bukannya pada turun, tapi malah ada bapak-bapak yang naik. Bukan naik angkot sih, lebih tepatnya, gelantungan kayak hanoman gitu di pintu angkot yang molongo. Kulihat ibu-ibu yang kebagian duduk di bangku kiri palling ujung rada risih. Mungkin hanoman itu nggak pake deodorant jadi semerbak wangi mereka tercium oleh sang ibu-ibu.

Di Bahagia.
tempat ini desebut bahagia soalnya ada toko kelontong yang namanya bahagia. Jadilah orang-orang menyebutnya bahagia.
Terkadang bahagia ini membawa bahagia, yaitu kalau di tempat ini banyak penumpang yang turun. Jadi, setidaknya kami penumpang yang naik angkot ini dari ujung sampai ujung bisa bernapas lebih lega.

Tapi kebahagiaan itu hanya muncul sepersekian detik. memang sih banyk yang turun, tapi banyak juga yang naik, jadilah aku masih tetap bertahan dengan posisi yang tidak dilakukan di tempat yang seharusnya. kulirikk ibu-ibu yang tadi, memang sih dia dapat temoat duduk yang agak ke dalam, nggak diujung lagi. Tapi, oo ternyata si hanoman tadi juga kebagian tempat duduk disebelah ibu-ibu itu. Dan ternyata nasib kurang beruntung bagi si ibu-ibu itu belum berakhir karena di depannya juga ada seorang gadis yang sama sekali nggak tahu malu memposisikan dirinya dengan posisi yang tidak seharusnya dialkukan remaja yang terhormat. Aku nyengir. Si ibu-ibu mendengus. Di sekelilingnya ada orang-orang yang sama sekali tidak membuatnya nyaman.

Di jalan deg-degan yang asyik.
Kalau yang ini bukan orang-orang yang memberi nama, tapi aku sendiri. jalan setelah di bahagia ini, naik turun gitu, jadi bikin deg-degan. Akan tetapi, yang bikin asik itu bagian yang jalannya turun dulu terus sedikit menanjak tapi sebentar kemudian turun lagi. Jadi kalu si supir memacu angkotnya dengan kecepatan tinggi, pada saat turunan pertama, deg-degan terus naik sebentar terus turun lagi... "asa apeng-apengan".
Saya informasikan kepada anda semua yang maniak dengan roler koster, atau koster yang muter-muter itu, silahkan berkunjung ke daerah rumah rami, niscaya anda tidak akan menyesal.

Di jalan Hup-ya
Apa itu hup-ya? Hup-ya adalah salah satu spesies dari famili polisi tidur dan genus gejligan. Nama hup-ya diambil ketika aku dan nadia naik motor dan ketika naik di polisi tidur, kami mangatakan "hup" dan ketika turun "ya". Kalau polisi tidurnya kecil kami dengan cepat mengatakan "hupyahupyahupyahup... ya". Itulah asal-muasalnya.

Di jalan hup-ya itu aku tidak begitu senang, karena dengan posisi seperti ini aku tidak dapat memprediksi kapan si angkot mengalami hup-ya, akhirnya kagetlah yang kurasakan.

Di bojong.
Hupfh, akhirnya bisa duduk juga. orang-orang yang mau pulang, berebut kursi. kulirik orang yang menggantikan posisiku tadi. Kasihan...

Di jalan berjerawat.
Setelah di bojong, ada jalang yang lubangnya banyaaaak sekali. Sudah tahu, jalan berlubang, supirnya malah menambah kecepatan. Perutku mual tidak terkira.

Di Tanjakan maut.
Hujan tiba-tiba mengucur deras. jalan licin, mesin mobil jadi dingin. Tanjakan yang biasanya maut, semakin terasa mematikan saja.
Getar-getar yang tadi kurasakan, berhenti. ya Allah, mesin mati. Penumpang yang lain pada ribut, keluar, padahal hujan deras. Mobil hanya ditahan menggunkan batu dan rem tangan yang entah masih baik atau tidak. As you know, mesin angkot memang tidak pernah bisa diandalakan. Supir berusahan menenangkan para penumpang yang sudah rusuh dari tadi. Entah apa yang merasukiku. Aku hanya menggeser diriku ke bangku paling ujung, menempelkan muka di kaca. seolah-olah aku adalah ikan dalam akuarium yang ditaruh di mobil ketika rem mendadak. Bodoh.

Alhamdulillah... Bisa nanjak juga ni mobil butut.

Masya Allah! Ternyata kengerian itu belum juga berakhir. tanjakan maut di depan POS sudah berhasil dialui, tapi aku lupa masih ada tanjakan lain yang lebih panjang dan lebih berbahaya. aku tutup mataku, tak berani melihat yang terjadi. Ketika aku buka mata, kami sudah berada di ligar agung, syukurlah...
Tarik napas... Huuuphhh . Satu tanjakan lagi maka semuanya akan segera berakhir. lubang disini semakin memperburuk keadaan. padahal penumpang sudah sedikit, tapi masih saja membuatku takut kejadian tadi akan terulang. Ternyata Allah masih memberikan kemudahan, si merah jambu masih bisa menanjak dengan mulus.--mulus? bohong, jalannya berigajul begitu kok--

Sampai di terminal.
Hujan masih menggguyur kampung kami. Aku menunggu hujan reda di mesjid Yayasa. Aku sendiri tidak tahu nama mesjid itu sebenarnya apa. Tapi dia terkenal dengan sebutan yayasan. Jangan menggugat apa yang sudah menjadi tradisi selama itu belum terlalu salah.

Hujan sedikit lebih ramah sekarang. Aku berjalan menuju rumah.
Tanjakan yang harus kulewati tak seberapa. jalan di depan pakalan ojek pun masih membuarkan aku hidup dengan tenang. tapi, untung tak selamanya lucky, di turunan gapura dengan sepatu sekolahku yang ternyata agak licin. Aku 'tisoledat' dengan sukses. bahkan malu pun mendatangi diriku, karena di tempat itu ada tukang baso dan kumpulan pembeli yang langsung memelototi aku. Begitu juga dengan penunggu wwrung bu Yayah. Huh. sebel.

Akhirnya sampai dirumah juga.

Besoknya, aku tidak ingin mengalami hal yang sama. Aku ingin membuat sebuah perubahan! Fight!
Aku pulang menggunakan angkot sadang serang. Itulah kawan, pilihanku untuk pulang hanya dua, kalau tidak lewat simpang, ya lewat bojong.
Turun dari angkot sadang serang aku masih baik-baik saja. Ketika jalan menuju bojong, bajuku kecipratan genangan air hadiah dari mobil yang melintas. Tak apalah, aku memaklumi pemerintah yang miskin sehingga tidak mampu menambal jalan.

Menanti angkot pink.
Wah, sudah banyak yang menunggu di sini. Yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Aku teringat pesanan mama membeli telur. Aku pergi sebentar ke alfa mart di dekat situ. Selesai mambeli telur aku kembali ke halte angkot. Waduh, sudah penuh. terpaksa aku menunggu angkot berikutnya.
Lama menit kemudian...
Aku sudah lumutan menunggu.
Ada siluet warna pink di sana! ugh ternyata uma payung orang yang warnanya pink. kecewa.
Yang ditunggu datang juga. Begitu aku mengijakkan satu kakiku di pintu, ada aa aa yang menyerobot, terdengar bunyi prak kecil dari dalam kantong. Bukannya buru-buru naik, aku malah memeriksa telurku dulu. pacah satu. aku memaki-maki dalam hati. Ketika bersiap akan naik, si yang ditunggu-tunggu pergi mencampakkan aku. sudah penuh lagi.

Aku menanti mobil yang tidak akan mengkhianati aku lagi...
Datang juga.
Aku tidak mau kecolongan lagi! begitu mobil berhenti, aku langsung mendekati pintu mobil. tak sengaja, kantong telurku teradu dengan badan mobil.prak lagi. setidaknya aku kebagian tempat duduk. Kuperiksa lagi kantongku. pecah satu lagi. tak apa deh, paling dimarahi sebentar.
Lho kok, belum juga jalan?
ternyata belum penuh, yang tadi naik itu cuma aku dan seorang anak sma lainnya. tahu begitu tadi aku tak perlu rusuh duluan. salah nih...

Setidaknya aku tidak mengalami hal separah kemarin.

Sampai di rumah. Aku kena marah berkali-kali, akibat faktor-faktor sebagai berikut:
1. baju kotor terkena genangan air
2. sepatu dan kaos kaki lebih parah lagi kena lumpur ketika jalan dari terminal
3. telur pacah dua butir
4. ternyata beli telur di alfa mart lebih mahal daripada beli di borma, aku dimarahi lagi deh
5. pulang telat

Capekya nggak abis-abis.
Puas puas puas

Petualangan ajaib Setiap Hari Part II: Siang Hari Bersama Angkot Pink!!

Setelah aku menceritakan petualanganku saat meninggalkan rumah, sekarang aku ingin menceritakan
penglaman rutin yang kualami setelah aku melalui seluruh aktivitasku diluar rumah.

Seperti yang kau ketahui, waktu kita dalam sehari bisa dibagi dalam beberapa kategori, subuh, pagi, siang, sore, maghrib, dan malam.

Mari kita sepakati jam tepatnya. misalnya, kategori siang itu dari jam 12 siang sampai jam 3 sore. Sore dari jam 3 lewat satu detik sampai maghrib, maghrib ya... maghrib sampai isya. Tapi bagi jam anak remaja putri sepertiku, mulai jam setengah 7 sudah bisa disebut malam.

Siang Hari Bersama Angkot Pink!!

Panasnya luar bisa, membara. Angin yang berhembus pun sama sekali tidak membantu menyejukkan diri. Jarang sekali aku pulang siang. Aku baru akan pulang sebelum ashar begini pada saat ujian semesteran.
Untungnya, aku jarang mengalami hal ini.

Sebelumnya aku ingin menegaskan kalo tingkah supir angkot pink itu menyebalkan. Pada saat pergi, yah, kau tahu, itu sudah kuceritakan di episode sebelumnya, dan pada saat pulang, mereka memaksa agar angkot yang segede gitu bisa muat buat 2 orang di bangku depan--ga termasuk supir--, 5 orang di bangku kiri, 7 orang dibangku kanan, dan 2 orang di bangku artis--kau tahu kan? itu loh, bangku yang membelakangi supir dan bisa dilihat langsung sama semua penumpang. Para supir itu ingin jumlah penumpangnya segitu, ga mau tahu, meskipun di bangku itu didudukin sama ibu-ibu yang pantatnya lebar-lebar, jadi untuk orang ke-7 yang menduduki bangku kanan itu sempit banget--kalo ada penggaris, dan kau ukur, lebarnya bisa jadi ga lebih dari 20 senti. parah banget.--tapi sang supir masih aja tetep belum mau ngejalanin tu mobil butut kalo jumlah 'muatan' ga pas.

Nah, kalo siang-siang nih, jarang ada orang yang mau pulang dulu, jadi calon penumpang si pinki jarang yang naikin, terpaksa aku yang lagi punya itikad baik buat pulang siang harus nunggu lama banget supaya si pinki bisa pul.
Yang miris banget, kalo behitu aku nyampe di simpang, angkot pinki baru aja penuh dan udah jalan, jadi aku harus menunggu lama lagi sampai si pinki bisa kenyang.

Atau, kalo aku pulang siang nggak lewat simpang tapi lewat bojong, kejadiannya bakal beda lagi.

angkot sadang serang yang sudah aku ceritakan sebelumnya, tapi kalo naik angkot ini dari sekolah susah banget--tapi lebih hemat. bisa dirasakan dari sekolah, sebelum aku bisa naik angkot sadang serang yang ke sadang serang, bukan ke stasion, aku harus jalan dulu bisa ke siliwangi, ka al-kautsar, ke jalan veteran, atau ke jalan sunda.

Kalau aku pulang siang-siang, jalan menuju angkot sadang serangnya saja sudah capek. panas banget soalnya. setelah berhasil naik angkot sadang serang, aku bisa bernapas sedikit lega. Setelah itu aku bakal tarik napas panjang kalau sudah sampai di Borma cikutra. Disitulah tempat aku turun. Setelah itu, aku harus jalan lagi sampai bojong, baru deh bisa hibernasi. Maksudnya hibernasi di sini adalah nunggu si pinki lagi. As you know, si pinki baru jalan dari simpang kalau sudah penuh, kalo belum yah.. aku yang menanti di bojong pun hanya bisa berdoa dan menanti. Belum lagi kalau ternyata setelah sampai bojong si pinki kosong lagi. Si pinki bakal melakukan hobiny dengan senang hati tidak peduli sengatan matahari yang luar biasa. Ngetem.

Setelah angkot pink ini mati suri lagi, aku belum bisa melindungi kulitku ini dari teriknya, karena setelah turun dari angkot pink--di tempat keramat yang pertama, terminal.--.Sampai di terminal, aku harus jalan lagi sampai ke rumah. subahanallah, panasnya.

Petualangan Ajaib Setiap Hari!!!

Kau tahu?

Semua orang memiliki petualangannya masing-masing, begitu pula denganku.

Banyak orang mengira, yang namanya petualangan itu harus pergi mendaki gunung dulu, harus terdampar di pulau terpencil dulu, harus menyelamatkan temen yang diculik dulu, atau harus berhadapan sama penjahat.

Aku tidak.

Hari-hariku adalah petualangan,

Kalau kau ingin tahu, petualangan paling berkesan dan paling rutin yang kujalani adalah pergi pulang ke rumah…

Rumahku ada di jalan Ligar melati dalam no 11 kab. Bandung,, sedikit orang selain penduduk sekitar yang tahu daerah ini. Dan masalah uutama yang menyebabkan petualanganku terjadi dijalan menuju atau menjauhi rumah adalah: SUSAHNYA TRANSPORTASI KE RUMAH (Angkot!)

Bagi sebagian orang, angkot adalah angkutan yang menyebalkan, suka ngetem, panas, berdesak-desakan, supirnya galak, dan macam-macam lainnya.

Buatku, angkot adalah tempat melatih kesabaran, benda yang selalu kurindukan sekaligus benda yang menjengkelkan.

Begini: Satu-satunya angkot yang kea rah rumah ku yang ada di kawasan bukit ligar adalah angkot pink yang ada tulisannya : Gd Bage Sp. Dago. Perlu kau ketahui disini, angkot pink ini sama dengan angkot pink yang melintasi RS. Boromeus dan menuju ujung berung. Padahal angkot pink yang ini, lintasannya hanya dari simpang dago sampai terminal di bukit ligar(aku tidak yakin apakah tempat itu bisa disebut terminal, karena satu-satunya angkutan yang mangkal disitu hanyalah angkot pink itu).

Tidak seperti angkot lainnya yang biasa disebut dengan jurusannya seperti kalapa dago, kalapa ledeng, panghegar dan semacamnya, kami menyebut angkot tercinta ini dengan sebutan sayang: Angkot Pink!

Setelah kau tahu ketergantungan kami dengan angkot pink, aku lanjutkan dengan ulah para supir yang semena-mena terhadap pecandu angkot pink.

Ada enam tempat keramat yang disinggahi sang angkot : terminal, ligar agung, ruko (di temapat itu ada ruko, kami biasa menyebutnya ruka hingga aku lupa nama jalannya apa), bojong, pesantren (aku tidak tahu nama jalannya apa), dan simpang.

Setiap kali aku hendak pergi, tapi tidak ada yang bisa mengntarku, aku akan mengalami hal seperti ini: Berjalan dari rumah ke terminal angkot pink, memakan waktu paling tidak 15 menit. Si pinki baru akan berangkat jika angkot sebelumnya telah pergi selama 10 menit. kemudian dia akan maju sampau ligar agung. Sang supir akan mematikan mesin dan pergi merokok diluar, angkot ngetem selama paling tidak 10 menit menunggu pink berikutnya datang, padahal jalan dari terminal sampai ligar agung tidak sampai 2 kilo meter, kalau sedang beruntung, ada banyak penumpang yang datang sampai angkot pink itu penuh, barulah sang supir membangkitkan kembali si pink. Tapi biasanya, aku akan berjalan dari rumah sampai ligar agung, jadi aku tidak akan menunggu si pink dari sarangnya. Sayangnya, jalan menuju ligar agung ini tidaklah mudah, sering kali jilbabku tersangkut di pohon putrid malu, tersandung kayu, jalan yang jeblog akibat tanah basah sehabis hujan, atau bahkan di pelototi anjing.

Biasanya, jika aku dipelototi anjing, aku akan balas memelototinya, kemudian di akan menyalak keras. Aku tahu yang namanya menjaga pandangan, aku baru akan mematuhi larangan menatap mata lawan jenis itu bila ujang anjing mulai mengambil ancang-ancang untuk mengejarku. Aku akan lari teribrit-ibrit seperti sedang dikejar anjing.

Lho? Kan memang. Sudahlah, lupakan saja.

Oke, kita lanjutkan. Setelah, habis waktu di ligar agung, pinki akan melaju, menuruni jalan ke ruko. Padahal jarak antara ruko dan ligar agungu itu tidak seberapa, tapi, si pinki akan beristirahat lagi disitu, padahal penumpangnya sudah capek hati menunggunya. Si supir malah baca Koran. Menyebalkan! Sayangnya, aku tidak bisa mengelak dari tugas kuncen angkot ini, apalagi kalau di sakuku tersimpan uang yang pas-pasan.

Aku bisa bernapas lega kalau di ruko banyak penumpang yang dating. Kalau tidak, aku bakal bersiap tidur karena si angkot bakal ngetem lagi di tempat selanjutnya. POS.

Aku tidak paham kenapa disitu disebut POS, padahal, sepenglihatanku yang minus 3 berkacamata pantat botol ini, nggak ada POS tuh disitu. Emang sih ada semacam gardu gitu, tapi fungsinya bukan sebagai tempat mangkal hansip, tapi buat temapat ngagenjreng bagi anak-anak muda. Disitu juga ada Temapat isi bensin yang tidak resmi, kau tahu seperti apa. Ada pangkalan ojeg, ada juga plang yang tulisannya “ANGKOT DILARANG NGETEM!!!” Ancaman yang terdengar merdu bagi para angkoters. Tapi ancaman itu diacuhkan saja oleh para supirers.

Perjalanan berlanjut, hupfh, akhirnya. Sampai juga di bojong. Aku bisa turun di sini, terus jalan sampai borma cikondang dan naik angkot sd. Serang stasion. Mengeluarkan aku dari belenggu penjajahan supir angkot pink. MERDEKA! Tempat ini ibarat pintu kebebasan kami masyarakat yang teraniaya.

1 jam sudah bersama angkot pink. Padahal jika bawa kendaraan pribadi, Dari rumah sampai bojong hanya memakan waktu 15-20 menit. Mengenaskan. Dari rumah sudah rapi, dandan, wangi, baru separo perjalanan sudah lepek, bau apek, kusut. Memalukan.

Yang parah, kalau tempat yang kutuju harus melewati simpang.

Aku harus mengalami hal seperti itu selama… yah… aku tak mau menceritakannya kepadamu, aku tidak mau kau berdecak dan bergumam, “dasar manusia kampung". Dan Aku akan bersyukur, setidaknya kau tidak mengatakan, “dasar manusia udik”.

Padahal tidak jauh dari rumahku—tinggal melewati kebun yang menanjak dan becek, cocok buat olahraga pagi atau bisa jadi outbond mini—Ada kumpulan rumah besar yang bagus, villa. Namanya resort Dago Pakar. Mengiris hati, ada kumpulan orang kaya yang menggunakan uangnya cuma untuk rumah yang belum tentu dipakai setahun dua hari, tapi banyak orang yang tidak punya rumah. Atau yang tidak terlalu jauh, penduduk asli di kampong ku itu harus jungkir balik buat nyari pinjaman uang. Lelah aku menceritakannya. Ingin marah, tak kuasa. Manusia yang dipermainkan nasib, hanya bisa ikhtiar dan berdoa…

Salahnya...

setiap yang kulakukan salah
yang ku katakan juga

aku rasa aku jadi orang yang salah
aku bertemu orang yang salah
aku ada di tempat yang salah
aku mendengar yang salah
aku melihat yang salah
aku menyentuh yang salah
aku adalah sebuah kesalahan

semuanya terdengar pesimistis yah?

aku rasa yang salah adalah kelakuanku

semua orang menginginkan aku jadi dewasa...

aku tak mau

salahkah?


aku ingin jadi orang yang berbeda...

Mereka ingin aku...

15 tahun yang lalu...
mereka ingin aku lahir
maka, lahirlah aku

14 tahun yang lalu...
mereka ingin aku berjalan
kemudian, aku bisa berlari

13 tahun yang lalu...
mereka ingin aku bicara
lalu, aku bisa berceloteh

10 tahun yang lalu...
mereka ingin aku membaca dan menulis
aku bisa mendongeng dan menulis indah

9 tahun yang lalu...
mereka ingin aku menjdai yang terbaik di kelas
selama 6 tahun peringkat nomor satu tak pernah aku tanggalkan

4 tahun yang lalu...
mereka ingin aku bisa masuk smp favorit
bangku smp 2 bandung kudapatkan

Tahun ini...
mereka ingin aku masuk sma yang bagus
SMA 3 Bandung kugapai

Tahun ini...
mereka ingin aku mendapat nilai UN yang bagus
aku jadi yang terbaik seangkatan


Tahun ini...
mereka ingin aku masuk kelas akselarasi
sekarang aku ada di kelas yang tak ku inginkan itu

Sekarang...
mereka ingin aku patuh

oke...
lihatlah! aku akan jadi patuh
sepatuh zombi
hingga tak ada satu pun yang lebih patuh dari pada aku...

sekarang...
mereka ingin aku meninggalkan apa yang aku suka
haruskah aku patuh???

sekarang...
sekali saja, aku ingin mereka berhenti inginkan aku menjadi yang mereka inginkan...

Astronomy Picture of the Day